Harga Sewa Mahal, Pedagang Enggan Tempati Lantai Dua Pasar Kelapa

CILEGON, penahitam.id/ – Lantai dua Pasar Blok F atau yang lebih dikenal dengan Pasar Kelapa dikeluhkan pedagang karena sepi peminat. Salah satu penyebab utamanya adalah harga sewa kios yang dinilai terlalu mahal dibandingkan lantai bawah.

“Di atas itu enggak ada yang sewa. Pernah ada, tapi enggak lama. Selain karena harus naik-naik, harganya juga lebih mahal. Dulu akses jalan ke atas baru dibangun tiga tahun setelah pasar berdiri,” ungkap salah satu pedagang yang ditemui di lokasi, Selasa (29/4).

Pedagang itu berharap pemerintah memberikan keringanan, bahkan menggratiskan sewa kios sementara waktu agar aktivitas perdagangan bisa kembali hidup.

“Sekarang saja lantai bawah sepi, apalagi yang di atas. Saya pribadi sih berharap kalau bisa, sewa kiosnya gratis saja dulu apalagi karena emang akhir akhir ini jualan sepi, semenjak pandemi khususnya,” harapnya.

PilihanRedaksi

Kondisi itu menjadi sorotan Wali Kota Cilegon, Robinsar, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Kelapa. Didampingi Kepala UPT Pasar Yusuf Han, sidak dilakukan untuk memantau harga bahan pokok, fasilitas pasar, area parkir, dan pelayanan umum lainnya.

Robinsar menyoroti langsung kondisi lantai dua yang terlihat kumuh dan tak terawat. Ia juga membenarkan bahwa banyak kios di lantai atas yang kosong karena harga sewa yang terlalu tinggi.

“Ya, kosong-kosong semua. Setelah saya tanya ke pedagang, ternyata harga sewanya tinggi. Di lantai dua Rp600 ribu per bulan, sedangkan di bawah hanya Rp450 ribu per tahun. Perbedaannya signifikan sekali,” kata Robinsar.

Ia menilai, ketimpangan harga sewa inilah yang membuat kios lantai dua tidak diminati pedagang. Padahal, jika dikelola dengan baik, area tersebut memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan.

“Kita akan komunikasikan ini dengan DPRD dan pelaku UMKM agar bisa ada penyesuaian harga sewa. Tujuannya supaya kios-kios di atas bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Selain persoalan harga sewa, Robinsar juga menyoroti kondisi fisik lantai dua yang sebagian sudah tidak layak dan perlu segera dibenahi.

“Sebagian bersih, tapi sebagian kumuh. Saya sudah minta OPD terkait segera duduk bersama untuk menentukan mana yang bisa segera dikerjakan, mana yang butuh proses bertahap,” jelasnya.

Terkait minimnya perlengkapan kebersihan di lantai dua, Robinsar mengatakan bahwa keterbatasan tersebut disebabkan efisiensi anggaran. Namun, ia menegaskan bahwa kebutuhan mendesak seharusnya tidak dipangkas.

“Tadi saya minta Pak Sekdis cek lagi. Kalau kebutuhan itu sifatnya mendesak, jangan dipotong. Sementara tadi saya bantu pribadi untuk pembelian peralatannya sebesar Rp2 juta,” tutupnya.(DN)

Bagikan

Related Posts

Pilihan redaksi

Terpopuler Minggu Ini

TERBARU

Apa yang Sedang Anda Cari?

Masukkan kata kunci untuk menemukan artikel, tokoh, atau topik pilihan.