Oleh : Muhammad Agus Atoib
JAKARTA, penahitam.id/ – Ketua Bidang (Kabid) Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi (KPP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badan Koordinasi (Badko) Jabodetabeka-Banten menyatakan sikap tegas menolak kebijakan pemerintah pusat yang membuka keran impor tempat makan berbahan stainless steel, terutama dalam jumlah besar dan tanpa melibatkan pelaku industri dalam negeri secara memadai. Kebijakan ini tidak hanya mencederai prinsip kemandirian ekonomi nasional, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup jutaan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
- Industri Lokal Mampu Memenuhi Kebutuhan Nasional
Indonesia memiliki banyak sentra produksi atau perusahaan yg memproduksi peralatan rumah tangga dari bahan logam / stanlis seperti di Banten ,Kendal, Jawa Timur, Klaten dan lainnya. Para pelaku UMKM di wilayah ini telah lama memproduksi sendok, garpu, piring, dan peralatan makan lainnya dengan kualitas tinggi yang mampu bersaing dengan produk luar negeri. Namun, mereka kerap diabaikan oleh pemerintah.
Salah satu contoh nyata adalah rencana pemerintah mengimpor 40 juta piring stainless steel dari Tiongkok untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini terungkap dalam pemberitaan media nasional (Suara.com, 20 Maret 2025) dan memicu kekecewaan luas di kalangan pengrajin dalam negeri. Mengapa kebutuhan dasar seperti alat makan tidak dipercayakan kepada rakyat sendiri? - UMKM Adalah Penyangga Ekonomi Nasional
Data dari Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa sektor UMKM menyumbang lebih dari 61% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja nasional. Dengan kata lain, UMKM bukan sekadar pelengkap, tetapi fondasi ekonomi Indonesia. Ketika produk luar negeri membanjiri pasar domestik, mereka yang pertama kali terdampak. Kebijakan impor akan menghantam daya saing produk lokal, menyebabkan pengurangan produksi, hingga berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor-sektor padat karya. Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, pemerintah seharusnya memberikan perlindungan ekstra kepada pelaku usaha kecil, bukan malah mengikis ruang gerak mereka. - Indonesia Eksportir Stainless, tapi import produk jadi
Ironi lainnya adalah fakta bahwa Indonesia merupakan salah satu eksportir stainless steel terbesar di dunia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2022 saja ekspor stainless steel Indonesia mencapai lebih dari USD 5 miliar, dengan tujuan utama ke Tiongkok dan Eropa. Artinya, bahan baku dari bumi Indonesia justru diproses di luar negeri dan kembali masuk dalam bentuk barang jadi yang diimpor dengan harga lebih tinggi. Kebijakan ini menunjukkan lemahnya hilirisasi industri dalam negeri dan rendahnya keberpihakan terhadap nilai tambah lokal. Apakah kita akan terus mengekspor bahan mentah dan mengimpor produk jadi tanpa membangun kemampuan sendiri? - Resiko Pengadaan Import : Rawan Korupsi dan Mark-Up
Impor dalam jumlah besar, apalagi jika dilakukan tanpa tender terbuka dan transparan, sangat rawan disusupi praktik mark-up harga, kolusi, dan bahkan korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah berulang kali mengingatkan bahwa proyek-proyek pengadaan yang tidak transparan membuka celah penyimpangan dana publik. Pemerintah harus belajar dari kasus-kasus pengadaan barang sebelumnya dan tidak mengulang kesalahan yang sama.
Maka kami menuntut kepada bapak Prabowo Subianto selaku presiden republik Indonesia untuk :
- menghentikan rencana dan realisasi impor tempat makan stanlis dalam program-program sosial berskala besar.
- memberikan prioritas penuh kepada pelaku industri lokal untuk memenuhi kebutuhan pengadaan barang oleh negara.
- Penguatan dan perluasan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), sebagaimana diatur dalam Inpres No. 2 Tahun 2022.
- Pengawasan ketat terhadap proses pengadaan agar transparan, akuntabel, dan bebas dari korupsi.
- Copot Budi Santoso dari kabinet dan menteri perdagangan Republik Indonesia.
Kami percaya bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kami punya sumber daya, tenaga kerja, dan keterampilan. Yang kami butuhkan hanyalah keberpihakan nyata dari negara.
Jika hari ini pemerintah tidak punya kepercayaan terhadap produk dalam negri maka sampai kapan pun Indonesia tidak akan menjadi negara yang maju.!
Tolak impor stanlis! Dukung produk dalam negeri! Lindungi UMKM kita!










