CILEGON, penahitam.id/ – Memperingati 26 tahun berdirinya Kota Cilegon, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Nusantara (MUN) juga pengasuh pondok pesantren Al-Khairiyah Alwiyan Qasyid Syam’un mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan refleksi mendalam atas perjalanan pembangunan daerah.
Menurutnya, sudah saatnya paradigma baru dikembangkan untuk menjawab persoalan penting dan strategis yang dihadapi kota ini.
“Ketika suatu paradigma sudah tidak dapat digunakan lagi untuk memecahkan persoalan penting atau justru menimbulkan konflik, maka paradigma baru harus segera diciptakan,” ungkap Alwiyan.
Ia menekankan, bangsa yang masyarakatnya saling berlaku jujur, adil, dan saling memakmurkan dalam dimensi material, spiritual, dan intelektual akan mencapai kejayaan.
“Masyarakatnya akan akur, sedulur, damai, dan sejahtera. Tidak akan ada permusuhan tajam atau kedzaliman yang membudaya,” ujarnya.
Dalam refleksi tersebut, Alwiyan mengutip firman Allah Swt dalam QS An-Nahl ayat 90 yang menekankan pentingnya keadilan dan kebajikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Ia juga mengingatkan pentingnya musyawarah, kerja sama, dan saling tolong-menolong sebagaimana diajarkan dalam QS Al-Maidah ayat 2.
Lebih lanjut, Alwiyan menawarkan lima aspek fundamental yang harus menjadi perhatian serius seluruh komponen bangsa dan negara dalam membangun Cilegon ke depan:
- Niat Luhur dan Mulia
Semua komponen bangsa harus memiliki niat tulus untuk memperjuangkan nilai luhur berbangsa dan bernegara. Negara, menurutnya, hanyalah alat perjuangan untuk mewujudkan keadilan, keberadaban, dan kemajuan yang moderat. - Supremasi Hukum
Hukum harus ditempatkan pada posisi tertinggi dan tidak boleh diintervensi oleh pihak manapun. “Hukum harus menjadi panglima dalam berbangsa dan bernegara,” tegasnya. - Kepemimpinan Solid
Soliditas kepemimpinan, menurut Alwiyan, adalah syarat mutlak. Kepemimpinan harus diwujudkan melalui pembuatan keputusan bersama, kerja sama antara pemimpin dan rakyat, serta distribusi hasil secara adil. - Produktivitas di Segala Bidang
Tanpa produktivitas nyata, bangsa akan redup dan mati. Ia mendorong agar semua sektor mampu berkontribusi secara optimal bagi ketahanan dan kemajuan bangsa. - Kaderisasi Regenerasi Kepemimpinan
Alwiyan menilai pentingnya menyiapkan generasi baru yang unggul melalui pendidikan berkualitas untuk meneruskan perjuangan bangsa dan melanggengkan nilai-nilai luhur.
Menutup refleksinya, Alwiyan mengingatkan bahwa bangsa yang sehat mampu memenangkan berbagai tantangan, sementara bangsa yang sakit akan kalah dan tertinggal. “Sehat itu ketika seluruh bagian bangsa berfungsi sesuai kodratnya, saling terhubung, dan saling menguatkan,” pungkasnya. (*/Red)









