CILEGON, penahitam.id/ – Wilip Institute menggelar Dialog Kebudayaan ke empat di Caffe Luang Pesona, Jumat (2/5), menjadi ruang kritik sekaligus harapan terhadap arah kebudayaan Kota Cilegon.
Acara ini dihadiri oleh tokoh masyarakat, seniman, dan perwakilan pemerintah yang saling beradu gagasan soal pelestarian budaya dan pentingnya infrastruktur budaya yang representatif.
Tokoh masyarakat Cilegon, Nawawi Sahim, menyoroti masih minimnya perhatian pemerintah terhadap fasilitas budaya. Ia bahkan menyinggung ruang bagi tersedia Cilegon belum tersedia.
“Tolong dianggarkan tanahnya, tidak sampai satu hektare ko. Saya berpesan ke depan harus ada lahan untuk mewadahi seniman, budayawan, dan sanggar, yaitu Rumah Budaya,” ujar Nawawi.
Menurutnya, siapa pun wali kota Cilegon ke depan harus menjadikan pembangunan Rumah Budaya sebagai program prioritas hasil dorongan unsur budayawan.
Nawawi juga menyarankan agar penamaan jalan di Cilegon menggunakan nama tokoh lokal, bukan nama buah atau hewan.
“Gunakan nama tokoh Cilegon agar terus dikenang dan menjadi inspirasi,” tambahnya.
Senada sastrawan Asia tenggara Muhamad Rois Reynaldi, mengkritisi kurangnya kesadaran kolektif terhadap tata nilai budaya lokal. Ia mempertanyakan keseriusan semua pihak dalam merumuskan nilai-nilai budaya yang menjadi jati diri Kota Baja.
“Saya tanya, mana tata nilai kita? Kita tidak pernah membicarakan dan merumuskannya,” tegas Rois.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadindikbud) Kota Cilegon, Heni Anita Susila, mengakui masih banyak pekerjaan rumah dalam pengembangan budaya.
Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya dengan melakukan pendataan dan penetapan cagar budaya secara berkala.
“Kami setiap tahun memanggil tenaga ahli cagar budaya untuk menetapkan bangunan, benda, atau situs yang memenuhi kriteria sebagai cagar budaya Cilegon,” jelas Heni.
Heni juga menyampaikan bahwa meski belum maksimal, pendidikan budaya mulai ditanamkan sejak dini kepada peserta didik. Anak-anak Cilegon saat ini sudah dikenalkan pada lagu daerah, permainan tradisional, bahasa daerah, hingga cagar budaya.
“Insyaallah, ke depan kami akan melaksanakan kegiatan-kegiatan pelestarian budaya seperti ini secara rutin,” pungkasnya. (DN)









