CILEGON, penahitam.id/ – Seratus hari masa kerja Wali Kota Cilegon Robinsar dan Wakil Wali Kota Fajar Hadi Prabowo menuai sorotan tajam.
Pengamat Ekonomi Politik dari Synergy Riset Center, Hadi Rusmanto, menilai kepemimpinan Robinsar-Fajar belum menunjukkan gebrakan berarti, khususnya di sektor ekonomi, pembangunan, dan pendidikan.
“Belum terlihat geraknya Robinsar-Fajar dari segi ekonomi. Daya beli masyarakat belum menunjukkan peningkatan tajam,” ujar Hadi kepada penahitam.id/, Jumat (13/6).
Menurut Hadi, stagnasi ini mencerminkan absennya langkah konkret dari kepala daerah dalam menggerakkan roda ekonomi daerah.
Ia menyayangkan bila program-program pemerintah hanya sebatas seremoni tanpa arah yang jelas untuk menyejahterakan masyarakat.
Dari aspek politik, Hadi juga menyoroti lemahnya komunikasi Robinsar-Fajar dengan partai-partai politik di luar koalisi pemerintahan. Ia menilai hal itu menjadi hambatan dalam konsolidasi dukungan terhadap kebijakan yang dicanangkan.
“Belum ada kerja-kerja politik untuk mendukung kebijakan pemerintahan saat ini. Justru yang terjadi adalah saling kritik di media,” imbuhnya.
Tak hanya soal ekonomi dan politik, pembangunan infrastruktur juga dinilai belum menyentuh persoalan mendasar warga. Hadi menyebut proyek seperti trotoar di kawasan Simpang Tiga tak cukup menjawab persoalan banjir atau penanganan jalan lingkar yang kerap tergenang.
“Tantangan hari ini adalah menyelesaikan pekerjaan rumah dari pemerintahan sebelumnya, bukan sekadar mengecat ulang,” sindirnya.
Kritik paling tajam diarahkan Hadi terhadap kebijakan beasiswa pendidikan yang menurutnya terlalu condong ke dunia industri. Ia menilai pendekatan ini mengabaikan potensi lain di luar sektor manufaktur.
“Beasiswa hanya untuk jurusan yang dibutuhkan industri. Seakan-akan masyarakat Cilegon ini semuanya harus kerja di pabrik. Bagaimana dengan anak-anak yang ingin jadi guru, perawat, atau ustaz? Ini bentuk diskriminasi,” tegasnya.
Hadi yang juga mantan pengurus PB HMI ini mengingatkan bahwa Cilegon bukan hanya kawasan industri, melainkan juga memiliki kultur sosial yang membutuhkan peran pendidik, tokoh agama, dan pelayan masyarakat.
“Masyarakat juga butuh guru ngaji, pendidik, tokoh agama. Jangan cederai pendidikan hanya karena kepentingan industri,” tandasnya.
Ia berharap, kepemimpinan Robinsar-Fajar ke depan lebih inklusif dan berpihak pada semua elemen masyarakat.
“Komunikasi politik perlu dibangun, ekonomi harus ditumbuhkan, dan pendidikan jangan dikorbankan demi satu sektor,” tutupnya. (DN)









