Oleh : Ilham Alhamdi (Mahasiswa HTN UIN Purwokerto)
PURWOKERTO, penahitam.id/ – Puasa Ramadhan sesungguhnya adalah medan pertarungan mikrokosmis antara manusia melawan dirinya sendiri. Sebab, di dalam puasa, manusia harus melawan godaan instingtifnya untuk makan, minum, berhubungan seksual, dan godaan-godaan duniawi lainnya.
Ini wajar karena menurut Ali Syari’ati dalam Tentang Sosiologi Islam : manusia itu terdiri dari dua unsur. Unsur tanah yang mewakili keinginan-keinginan rendah duniawi yang kemudian dihembuskan ruh keilahian ke dalamnya. Ruh keilahian di sini tentu melambangkan sifat luhur manusia. Karena itu, perjalanan hidup sejati manusia dari lahir hingga akhir hayatnya nanti adalah pergerakan diri pribadi menggapai status insan kamil (manusia paripurna) saat bertemu Tuhannya.
Secara filosofis, ini menggemakan pendapat filsuf Friedrich Nietzsche tentang Ubermensch. Terjemahan kata ini ke bahasa Inggris bukanlah Superman yang menandakan manusia harus menjadi superior hingga menindas manusia lain dan juga alam. Berkenalan dengan Eksistensialisme. Melainkan, overman yang berarti manusia berkompetisi dengan dirinya sendiri untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Ada ungkapan bijak yang meringkaskan ini, “Be your self, but better every day” atau jadilah autentik, tapi bertumbuh lah lebih baik setiap harinya.
Bertumbuh lebih baik secara autentik setiap hari itulah yang sebenarnya dilatih oleh puasa Ramadan, yang sejatinya mengajarkan puasa transformatif. Apa itu puasa transformatif? Itulah puasa yang menggembleng manusia untuk melaksanakan agama transformatif yang akan mentransformasi umat beragama menjadi pribadi yang lebih baik dan tercerahkan (raushan fikr).
Menurut intelektual Islam Muslim Abdurrahman dalam “Wong Cilik dan Kebutuhan Teologi Transformatif”. Teologi atau agama transformatif itu memiliki enam dasar. Pertama, memiliki visi sosial yang membebaskan (emansipatoris). Kedua, mementingkan artikulasi substansi agama ketimbang bentuk formil agama. Ketiga, bersibuk melakukan dialog antara teks (baca : kitab suci) dan konteks (baca : realitas konkret). Keempat, berorientasi pada kepentingan umat. Kelima, berfokus pada segi praksis. Keenam, bersikap kritis terhadap realitas sosial.
Puasa Ramadhan persis bersifat transformatif karena mengajari kita untuk membebaskan manusia dari belenggu hawa nafsunya. Kemudian, watak puasa Ramadhan yang melatih manusia untuk berempati terhadap mereka yang kelaparan diharapkan akan mengetuk kesadaran manusia untuk melakukan aksi nyata (praksis) guna mengubah realitas sosial yang mendominasi manusia (seperti kondisi kemiskinan dan kelaparan). Salah satu caranya adalah dengan menunaikan zakat demi mendistribusikan pendapatan dan mengikis kesenjangan yang terjadi di antara umat.
Jika puasa transformatif bisa dijalankan dengan baik, manusia akan menjadi insan kamil ber pribadi profetik (Berkarakter mendekati Nabi), yang menurut Kuntowijoyo dalam Paradigma Islam. Harus menjalankan humanisasi, liberasi dan transendensi. Humanisasi adalah memulihkan watak manusia sebagai makhluk dengan dimensi spiritual di dalamnya, liberasi berarti membebaskan manusia dari kondisi seperti kemiskinan yang membelenggu dirinya dan transendensi bermakna kondisi manusia yang kian meninggalkan watak hewaninya seraya mendekat pada dimensi keilahiannya.
Tatkala manusia sudah merengkuh status profetik inilah kemudian manusia jadi layak dan mampu menyandang status mulianya sebagai khalifah alam semesta, status yang diberikan Tuhan kepadanya. Sebagai khalifah yang baik, manusia akan menjalankan empat macam hubungan persaudaraan yang serasi, yaitu persaudaraan antara sesama umat Islam (Ukhuwah Islamiyyah), persaudaraan antara sesama warga negara (Ukhuwah Wathaniyyah), persaudaraan antara sesama manusia (Ukhuwah Basyariyyah) dan persaudaraan antara sesama makhluk Tuhan (Ukhuwah Makhluqiyyah).
Dalam tataran praktis, keempat persaudaraan ini akan bermuara pada solidaritas antara umat Islam, kerukunan antara sesama warga negara di negeri sendiri, perdamaian dunia, dan komitmen menjaga kelestarian alam secara keseluruhan.
Jika kita sebagai setiap pribadi bisa menjalankan puasa di bulan Ramadhan ini dengan baik, maka bukan hanya individual-personal saja yang dicapai tapi juga perkembangan dunia dan alam semesta ke arah yang lebih positif. Semoga ibadah puasa kita di bulan Ramadhan ini sungguh menjadi puasa yang dirahmati Allah SWT Aamiin ya rabbal aalamiin. (*/Admin)










