Kisah Samanudin, Mengaku Habiskan Waktu 128 Hari Berjalan dari Cilegon ke Mekah

CILEGON, penahitam.id/ – Perjalanan spiritual penuh tekad ditempuh Samanudin, warga Link Kubang Bale RT 02/06, Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon.

Ia mengaku menghabiskan waktu 128 hari dalam perjalanannya dari Cilegon menuju Kota Suci Mekah, sebagian besar dilakukan dengan berjalan kaki. Kini, ia tengah berada di Tanah Suci dan berencana menetap selama dua bulan untuk memperdalam ibadah.

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Selasa 1 Juli 2025, Samanudin menceritakan kisah hijrahnya yang penuh ujian.

Pria sederhana ini memulai perjalanannya dengan niat lillahita’ala, bermodalkan tekad dan semangat untuk bisa bersujud langsung di Baitullah.

PilihanRedaksi

“Sy jalan kaki menuju modal nekad karena lillahita’ala. Pertama sampai saya nangis, sujud bahagia, terharu, tak disangka,” ujarnya singkat dalam pesan tertulis.

Samanudin menempuh perjalanan melintasi enam negara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi. Ia tidak sepenuhnya berjalan kaki, namun menegaskan bahwa ia hanya menerima tumpangan atau bantuan kendaraan dari orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan.

“Saya tidak pernah meminta, hanya menerima kalau ditawari,” ujarnya.

Dalam perjalanannya, ia banyak bermalam dari masjid ke masjid dan bertemu banyak ulama. “Alhamdulillah bisa silaturahmi sama ustadz-ustadz yang awalnya tidak saya kenal,” katanya.

Ia juga mengaku sangat terkesan dengan sambutan masyarakat Malaysia. “Orang yang paling respect itu di Malaysia. Saya dieskort sama tim SPU (Peduli Ummah), luar biasa kebaikannya. Warga Malaysia 100 persen support dan bantu,” ungkapnya.

Perjalanan panjang Samanudin tidak lepas dari berbagai cobaan. Di Lampung Timur, ia sempat dicegat oleh begal.

“Alhamdulillah atas izin Allah, saya bilang musafir, akhirnya diperbolehkan lewat. Mereka kira saya bawa banyak uang karena tas saya besar,” ucapnya.

Di Batam, ia mengaku sempat ditipu oleh seorang pria paruh baya yang menjanjikan bantuan uang dan tiket nyebrang. “Saya ditipu 100 Ringgit,” katanya.

Cobaan lain dialami saat berada di Thailand. Di negara tersebut, Samanudin sempat kehilangan paspor, HP, dan uang, yang tertinggal di dalam mobil tumpangan.

“Saya berdoa, kalau masih rezeki ya Allah, kembalikan. Dua jam kemudian, Alhamdulillah, seorang warga Thailand asli mengembalikan semua barang saya,” kenangnya. Ia juga mengaku dua hari tidak makan karena sulitnya mencari makanan halal.

Ujian kembali datang saat hendak terbang ke Dubai dari Thailand. Namanya yang hanya satu suku kata ditolak saat proses penerbangan. Ia pun berupaya ke Kedutaan Indonesia di Thailand dan Malaysia untuk mengurus endorsement paspor.

“Di Malaysia, saya dibantu oleh hamba Allah, akhirnya bisa diendorse jadi dua suku kata,” ucapnya.

Sambil menunggu proses pengurusan dokumen, Samanudin mengaku sempat bekerja serabutan.

“Saya kerja bangunan dan jadi tukang urut untuk beli tiket. Alhamdulillah terkumpul dan bisa beli tiket. Tapi di bandara Malaysia sempat terkendala karena harus beli tiket balik, akhirnya saya beli dan lari-lari menuju gate. Alhamdulillah bisa masuk dan terbang ke Abu Dhabi,” jelasnya.

Dari Abu Dhabi, ia lanjut ke Qatar. Namun saat mencoba masuk ke Arab Saudi, ia tidak diperbolehkan menyeberang karena harus menggunakan tiket pesawat.

“Saya kembali urut untuk mengumpulkan uang selama sebulan. Alhamdulillah ada orang baik membantu saya beli tiket ke Jeddah,” kata Samanudin.(DN)

Bagikan

Related Posts

Pilihan redaksi

Terpopuler Minggu Ini

TERBARU

Apa yang Sedang Anda Cari?

Masukkan kata kunci untuk menemukan artikel, tokoh, atau topik pilihan.