Peradaban Manusia Bagian Dari Skenario Tuhan

Oleh : Ocit Abdurrosyid Siddiq

penahitam.id/ – Karena Allah SWT selain Maha Benar atau Al-Haqq, juga Maha Kekal atau Baqa, maka saya yakin firmanNya yang tertuang dalam kitab suci juga benar dan abadi.

Abadi itu, bahwa kadar benarnya tidak surut dan lekang oleh waktu. Maka, walau zaman telah berubah, norma kitab suci senantiasa menjadi rujukan hidup umat.

Norma kitab suci menjadi pedoman hidup umat sejak diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, berlanjut ke era sahabat, periode tabiin, kala ekspansi wilayah, zaman keemasan Islam, masa kemunduran Islam, hingga sekarang di era millennial.

PilihanRedaksi

Firman Tuhan itu eternal, universal, dan unchangeable atau kekal, berlaku menyeluruh di mana pun dan tidak berubah. Hal ini bahkan ditegaskan langsung olehNya, bahwa Dia sendiri yang akan menjaganya.

Pun demikian dengan hadits. Saya juga yakin bahwa kadar benarnya seperti kitab suci. Karena ia berasal dari lisan, tindakan, ketetapan dan gesture Nabi Muhammad SAW yang langsung mendapat bimbingan dari Allah SWT.

Walau demikian, karena keduanya kadang mutasyabihat, maka menghajatkan penafsiran atas maksud teksnya. Itulah mengapa, dalam khazanah keilmuan Islam, ada ulumul quran dan ulumul hadits.

Di luar keduanya (Al-Quran dan Hadits), pengetahuan manusia berupa ilmu dan filsafat, yang adalah produk ijtihad dan penelitian manusia biasa itu, bersifat relatif atau tidak mutlak benar. Karena ia terbatas oleh ruang dan waktu.

Banyak orang-orang hebat muncul dalam sejarah karena pengetahuannya. Mulai dari peneliti, ilmuwan, cendekiawan, hingga ulama. Karya mereka diabadikan dalam bentuk buku dan atau kitab.

Kitab ini banyak dijadikan rujukan oleh umat. Maka tak heran, bila kita sedang membahas atau diskusi atas satu perkara, selain Al-Quran dan Hadits, kerap menukil pendapat atau kaidah yang tercantum dalam kitab karya ulama tersebut.

Menjadikan pendapat ulama dalam kitab tertentu, dalam kasus tertentu terasa seperti senjata pamungkas atas persoalan dan atau perkara yang sedang dibahas. Pada situasi tertentu, sakralitasnya terasa seperti melampaui hadits, bahkan kitab suci.

Biasanya ini terjadi ketika seorang penceramah agama sedang menyampaikan tausiyah. Untuk menguatkan pandangannya, dia mengutip pendapat ulama yang tertuang dalam kitab tertentu. Pastinya berbahasa Arab dan disampaikan dengan bahasa Arab.

Tidak semua orang mengerti apalagi paham dengan bahasa Arab. Ketika menyampaikan dalil penguat yang tidak dikuasai oleh banyak orang itu, terasa keren dan berkelas. Apalagi substansinya. Kebenarannya seolah tidak bisa dibantah.

Situasi yang sama terjadi ketika kita terlibat dalam sebuah forum diskusi. Ketika lawan diskusi mengutip kalimat dari sebuah kitab karya ulama terdahulu, kerap disertai keyakinan bahwa itulah aksioma yang tidak bisa diperdebatkan lagi, karena dianggap final.

Bagi saya, karena kitab merupakan produk pikiran ulama – bukan Nabi apalagi Tuhan- maka ia relatif; terbatas oleh ruang dan waktu. Terbatas ruang, menjadi benar pada wilayah tertentu. Terbatas waktu, menjadi benar pada saat tertentu.

Ulamanya sendiri yang hidup di tempat tertentu dan waktu tertentu, merupakan manusia biasa yang memiliki pengetahuan yang dalam, tinggi dan luas. Pendapatnya yang dituangkan dalam kitab, tidak terlepas dari pengaruh budaya yang hidup di sekelilingnya.

Karenanya, ia bisa berbeda kadar benarnya pada wilayah tertentu, atau pada era tertentu. Menjadikan pendapat ulama dalam kitab tertentu sebagai jawaban atas persoalan apa pun, di mana pun, dan kapan pun, adalah sikap menutup pintu ijtihad baru.

Persoalan kehidupan saat ini semakin kompleks. Ada banyak persoalan baru yang muncul dan itu belum pernah ada di masa para ulama pengarang kitab itu hidup. Menjawab persoalan era millennial dengan produk ijtihad zaman harita atau saat itu, tentu tidak sinkron.

Jadi, pendapat para ulama yang tertuang dalam banyak kitab tersebut, bukan satu-satunya jawaban atas persoalan kehidupan umat. Apalagi meyakini bahwa kebenarannya tidak terbantahkan.

Sikap demikian hanya akan membuat umat terjebak pada sikap taklid, yang berpotensi menutup pintu ijtihad baru, yang notabene lebih relevan dan faktual dengan persoalan kehidupan yang dihadapi umat di masa kini. (*)

Bagikan

Related Posts

Pilihan redaksi

Terpopuler Minggu Ini

TERBARU

Apa yang Sedang Anda Cari?

Masukkan kata kunci untuk menemukan artikel, tokoh, atau topik pilihan.