Di Balik Narasi Perempuan Produktif

Oleh: Khansa Alma

Perempuan hari ini semakin memiliki ruang untuk berkiprah di berbagai bidang. Pendidikan, pekerjaan, organisasi, pemerintahan, hingga dunia usaha digital menjadi bagian dari aktivitas yang banyak dijalani perempuan. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial, perempuan bahkan didorong untuk semakin mandiri, produktif, dan mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Hal tersebut juga terlihat di Banyumas. RRI memberitakan kiprah perempuan di Desa Kemutug Lor yang menjalankan beragam profesi dan usaha. Pemberdayaan perempuan juga dilakukan melalui berbagai pelatihan, mulai dari pemasaran digital, fotografi produk, pembuatan video, hingga public speaking. Pada saat yang sama, pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas publik dan keluarga juga menjadi perhatian, termasuk melalui manajemen waktu, pembagian pekerjaan, serta dukungan keluarga.

Sekilas, semua ini merupakan kabar baik. Perempuan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi di tengah masyarakat.

Namun, ada satu pertanyaan yang patut direnungkan, sebenarnya apa ukuran perempuan dikatakan berdaya?

PilihanRedaksi

Apakah perempuan baru dianggap berdaya ketika ia memiliki penghasilan sendiri? Ketika memiliki karier, jabatan, bisnis, atau aktif di ruang publik? Apakah perempuan yang memilih lebih banyak mencurahkan waktunya untuk keluarga lantas dianggap kurang produktif?

Pertanyaan ini penting karena tanpa disadari, istilah perempuan berdaya dapat bergeser menjadi tuntutan baru.

Perempuan seolah harus mampu melakukan semuanya. Menjadi ibu yang baik, istri yang baik, memiliki karier, membangun bisnis, aktif di masyarakat, produktif secara ekonomi, mengikuti perkembangan teknologi, sekaligus tetap tampil prima dalam kehidupan sosial.

Pada akhirnya, perempuan bukan hanya menghadapi persoalan pembagian waktu, tetapi juga menghadapi standar keberhasilan yang semakin tinggi.

Menjadi ibu saja dianggap belum cukup. Menjadi istri saja dianggap belum produktif. Mengurus rumah tangga sering dipandang sebagai aktivitas domestik yang kurang bernilai dibandingkan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan mempertanyakan arah pemberdayaan perempuan.

Ketika Nilai Perempuan Diukur dari Produktivitas Ekonomi

Pemberdayaan tentu merupakan sesuatu yang baik apabila dimaknai sebagai upaya agar perempuan memiliki ilmu, keterampilan, rasa percaya diri, serta kesempatan untuk berkontribusi sesuai kemampuan dan pilihannya.

Persoalan muncul ketika keberdayaan perempuan terlalu erat dikaitkan dengan produktivitas ekonomi.

Ukuran keberhasilan akhirnya menjadi seragam ketika semakin banyak menghasilkan, semakin dianggap berhasil. Semakin tinggi jabatan, semakin dipandang berdaya. Semakin mandiri secara finansial, semakin dianggap memiliki nilai.

Padahal manusia tidak seharusnya dinilai hanya dari nilai ekonominya.

Seorang ibu yang setiap hari mendampingi tumbuh kembang anak, mendidik akhlaknya, menanamkan iman, menjaga rumah tangga, dan menjadi tempat pulang bagi keluarganya sedang melakukan pekerjaan yang sangat besar. Hasilnya mungkin tidak selalu tercatat dalam angka pendapatan, tetapi pengaruhnya dapat membentuk generasi.

Begitu pula perempuan yang memilih bekerja, berdagang, mengembangkan usaha, mengajar, berdakwah, atau berkontribusi di tengah masyarakat. Aktivitas tersebut dapat menjadi amal yang bernilai ketika dilakukan dengan niat dan cara yang sesuai dengan syariat.

Maka persoalannya bukan pada apakah perempuan boleh produktif atau tidak. Persoalannya adalah jangan sampai perempuan dipaksa mendefinisikan harga dirinya berdasarkan produktivitas ekonomi.

Islam Tidak Merendahkan Perempuan yang Berkiprah

Islam tidak pernah menjadikan perempuan sebagai manusia kelas kedua. Islam juga tidak melarang perempuan memiliki harta, berdagang, menuntut ilmu, melakukan aktivitas sosial, ataupun berkontribusi bagi masyarakat selama aktivitas tersebut sesuai dengan ketentuan syariat.

Sejarah Islam menunjukkan adanya perempuan yang memiliki peran penting dalam kehidupan umat. Khadijah ra. dikenal sebagai seorang saudagar. Aisyah ra. merupakan salah satu rujukan ilmu bagi kaum Muslim. Para sahabiyah juga terlibat dalam berbagai aktivitas kehidupan sesuai dengan kapasitas dan ketentuan syariat.

Namun Islam juga tidak memaksa perempuan untuk membuktikan kemuliaannya dengan meniru seluruh peran laki-laki.

Sebab ukuran kemuliaan dalam Islam bukanlah jabatan, kekayaan, popularitas, maupun produktivitas ekonomi.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini memberikan standar yang sangat berbeda dengan ukuran keberhasilan yang sering ditawarkan kehidupan modern.

Kemuliaan manusia ditentukan oleh ketakwaannya kepada Allah.

Karena itu, seorang perempuan tidak kehilangan kemuliaannya hanya karena ia memilih fokus mendidik anak dan mengurus keluarganya. Sebaliknya, perempuan yang bekerja atau aktif di masyarakat juga tidak otomatis menjadi lebih mulia hanya karena memiliki penghasilan atau jabatan.

Yang menjadi ukuran adalah ketakwaan dan bagaimana seluruh aktivitas tersebut dijalankan sesuai dengan aturan Allah.

Islam Memberikan Ruang, Sekaligus Menjaga Peran

Islam memandang perempuan pertama-tama sebagai manusia dan hamba Allah. Ia memiliki kewajiban untuk beribadah, menuntut ilmu, menjaga akhlak, serta berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.

Dalam keluarga, perempuan juga memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang mulia sebagai istri dan ibu. Peran tersebut bukan pekerjaan rendahan yang sekadar berada di wilayah domestik. Mendidik generasi, membangun suasana rumah yang penuh iman, serta menjaga keluarga merupakan bagian penting dalam membangun masyarakat.

Pada saat yang sama, Islam tidak menutup pintu bagi perempuan untuk melakukan aktivitas di luar rumah. Perempuan dapat berdagang, bekerja, belajar, berdakwah, mengajar, maupun melakukan aktivitas sosial yang dibolehkan syariat.

Dengan demikian, Islam tidak menawarkan pilihan ekstrem: perempuan harus berada di rumah sepanjang waktu atau perempuan harus keluar rumah untuk membuktikan dirinya berdaya.

Islam memberikan aturan yang menjaga keduanya.

Perempuan tidak perlu menjadi “versi perempuan dari laki-laki” untuk mendapatkan penghargaan. Ia tidak harus mengejar semua peran sekaligus hanya karena takut dianggap tidak produktif.

Sebab kemampuan manusia terbatas. Ada masa ketika seorang perempuan mungkin lebih banyak mencurahkan tenaga untuk anak-anaknya. Ada masa ketika ia memiliki kesempatan lebih luas untuk bekerja atau berdakwah. Ada pula perempuan yang sejak awal memilih berfokus pada keluarga.

Semua itu perlu dilihat berdasarkan kondisi, kebutuhan, kemampuan, dan hukum syariat, bukan berdasarkan standar produktivitas yang dibuat oleh masyarakat.

Jangan Bebankan Semua Persoalan kepada Perempuan

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah ketika tuntutan keseimbangan antara keluarga dan karier seolah menjadi persoalan yang harus diselesaikan perempuan sendirian.

Ketika seorang ibu bekerja, ia dituntut tetap optimal mengurus rumah. Ketika seorang ibu lebih banyak di rumah, ia ditanya mengapa tidak produktif secara ekonomi. Ketika menjalankan usaha, ia harus tetap hadir untuk anak. Ketika aktif di masyarakat, ia harus memastikan seluruh urusan rumah tetap berjalan.

Akhirnya, perempuan terus diminta untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan, sementara persoalan sistemiknya kurang diperhatikan.

Padahal keluarga membutuhkan pembagian tanggung jawab yang adil dan saling mendukung. Suami memiliki kewajiban menafkahi keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab mendidik anak. Masyarakat memiliki peran menjaga lingkungan sosial. Negara pun memiliki tanggung jawab menciptakan kondisi yang memungkinkan keluarga menjalankan fungsi tersebut dengan baik.

Karena itu, pemberdayaan perempuan seharusnya tidak berhenti pada pelatihan agar perempuan semakin produktif menghasilkan pendapatan.

Perempuan juga membutuhkan perlindungan, pendidikan, lingkungan sosial yang sehat, keluarga yang kokoh, serta kebijakan negara yang tidak menjadikan seluruh beban kehidupan berada di pundaknya.

Berdaya dengan Standar Allah

Pada akhirnya, perempuan tidak membutuhkan standar baru yang justru membuatnya semakin lelah.

Perempuan membutuhkan pemahaman bahwa dirinya berharga bukan karena berapa rupiah yang mampu ia hasilkan, bukan karena jabatan yang dimiliki, bukan pula karena seberapa banyak aktivitas publik yang dijalankan.

Ia berharga karena Allah menciptakannya sebagai manusia dan memberikan kepadanya amanah kehidupan.

Maka menjadi perempuan yang berdaya bukan berarti harus melakukan semuanya.

Berdaya adalah ketika seorang perempuan memiliki ilmu untuk memahami kehidupannya, memiliki iman untuk menentukan arah langkahnya, memiliki kemampuan untuk menjalankan perannya, dan memiliki keberanian untuk hidup sesuai dengan aturan Allah.

Ia boleh berkarya. Ia boleh berusaha. Ia boleh berdakwah. Ia boleh berkontribusi di tengah masyarakat.

Namun ia juga berhak menjadi ibu tanpa merasa rendah, menjadi istri tanpa merasa kehilangan identitas, dan mengurus keluarganya tanpa merasa pekerjaannya tidak bernilai.

Sebab dalam pandangan Islam, pekerjaan yang terlihat oleh manusia maupun yang tersembunyi di balik pintu rumah sama-sama dapat menjadi amal saleh ketika dilakukan dengan ikhlas dan sesuai syariat.

Sudah saatnya kita menggeser cara pandang tentang perempuan.

Bukan lagi sekadar bertanya, “Seberapa produktif perempuan secara ekonomi?”

atau pertanyaan lebih dalam,

“Apakah perempuan telah mendapatkan ruang untuk menjalani hidupnya sebagai hamba Allah dengan mulia, tanpa dieksploitasi, tanpa diremehkan, dan tanpa dibebani tuntutan untuk menjadi segala-galanya?”

Sebab perempuan tidak diciptakan untuk memenuhi seluruh tuntutan dunia.

Perempuan diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menjalankan amanah kehidupannya.

Dan ketika standar itu kembali kepada Allah, perempuan tidak lagi sibuk membuktikan bahwa dirinya berharga di hadapan dunia.

Ia cukup yakin bahwa kemuliaannya telah memiliki standar yang pasti yaitu ketakwaan. Wallahu A’lam Bisshowwab

Bagikan

Related Posts

Pilihan redaksi

Terpopuler Minggu Ini

Apa yang Sedang Anda Cari?

Masukkan kata kunci untuk menemukan artikel, tokoh, atau topik pilihan.